Pages

Rabu, 22 Mei 2013

makalah karya ilmiah remaja"KOROSI"


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas kehendak-Nyalah KIR  ini dapat terselesaikan. Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk mengamati korosi pada besi. Selain itu juga untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan korosi .
Dengan terselesaikannya karya ilmiah ini diharapkan dapat memberi pengetahuan tentang bahan-bahan yang dapat timbulkan dan mempercepat terjadinya korosi (karat), proses terjadinya korosi, kerugian serta cara mencegah terjadinya korosi. Oleh karena itu, terselesaikannya KIR ini tentu saja bukan karena kemampuan penulis semata-mata. Namun, berkat dukungan dan bantuan dari pihak-pihak terkait.
Kami menyadari bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, kritik serta saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapakan demi penyempurnaan karya ilmiah ini. Semoga KIR ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca tentang faktor terjadinya korosi.


Subulussalam,14 April 2013
Penulis

                                                                                                            (                                  )









DAFTAR  ISI

                                                                                                                                                                                      HALAMAN

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………………………………..                        1
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………………………………...                         2
ABSTRAK …………………………………………………………………………………………………………………...                         3
BAB I : PENDAHULUAN ………………………………………………………………………………………………                         4
                1.1.Latar belakang …………………………………………………………………………………………..                      4
                1.2.rumusan masalah ……………………………………………………………………………………..                       4
                1.3.Tujuan penelitian ………………………………………………………………………………………                      4
BAB II : KAJIAN TEORITIS ……………………………………………………………………………………………..                      5
                2.1. korosi ……………………………………………………………………………………………………….                       5
ü  Penyebab korosi ………………………………………………………………………………..                      5
ü  Proses terjadinya korosi …………………………………………………………………….                      5
ü  Dampak dari korosi ……………………………………………………………………........                       6
ü  Mencegah terjadinya korosi ………………………………………………………………                      6
BAB III :  METODE PENELITIAN …………………………………………………………………………………….                       7
                3.1. Alat dan bahan …………………………………………………………………………………….....                       7
                3.2. cara kerja………………………………………………………………………………………………….                       7
                3.3. waktu dan tempat ……………………………………………………………………………………                       7
BAB IV :  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …………………………………………………………                      8             
                4.1. Hasil penelitian ………………………………………………………………………………………..                       8
                4.2. Pembahasan ……………………………………………………………………………………………                        8
BAB V :  KESIMPULAN    ………………………………………………………………………………………………                        9
                5.1. Kesimpulan ……………………………………………………………………………………………..                        9
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………………………………….                       10




ABSTRAK


Karya ilmiah yang berjudul Pengamatan terjadinya korosi pada paku ini membahas faktor yang mempengaruhi korosi pada paku dan cara pencegahannya.tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui bahan-bahan yang dapat mempercepat terjadinya korosi. Metode yang digunakan dengan melakukan penelitian langsung terhadap paku. Berdasarkan hasil penelitian, paku  yang lebih cepat berkarat / korosi adalah paku di dalam asam cuka yang terbuka. Salah satu penyebabnya adalah  karena asam cuka mengandung H+ dan asam serta dipengaruhi oleh kelembaban udara di sekitar tempat penyimpanan.


BAB  I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang masalah
Dalam bahasa sehari-hari korosi dikenal dengan perkaratan.Karat adalah sebutan bagi korosi pada besi, padahal korosi merupakan gejala destruktif yang mempengaruhi hampir semua logam. Besi adalah salah satu dari banyak jenis logam yang mengalami korosi. Karena itu tidak mengherankan bila istilah korosi dan karat hampir dianggap sama. Korosi dikenal merugikan karena bersifat merusak logam dan membahayakan.Oleh karena itu,dengan pentingnya mempelajari pencegahan korosi.


1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana proses terjadinya korosi?
2. Apa yang menyebabkan terjadinya korosi?

1.3. Tujuan masalah

1. Mengetahui proses bagaimana terjadinya korosi.
2. Mengetahui penyebab terjadinya korosi.



BAB  II

KAJIAN TEORITIS



2.1. korosi
          Korosi merupakan proses perubahan logam menjadi senyawa, terutama terjadi dalam lingkungan yang mengandung air, atau peristiwa teroksidasinya suatu logam oleh gas oksigen di udara.
          Salah satu contoh korosi adalah yang terjadi pada besi, atau biasa disebut dengan karat. Besi yang mengalami korosi membentuk karat dengan rumus Fe2O3.XH2O. Pada proses pengamatan, besi (Fe) bertindak sebagai preduksi dan Oksigen (O2) yang terlarut dalam air bertindak sebagai pengoksidasi. Persamaan reaksi pembentukan karat :
Anode        : Fe2+ + 2e- Fe
Katode       : 2H2O O2 + 4H+ + 4e-
Karat disebut sebagai autokatalis karena karat yang terjadi pada logam akan mempercepat proses pengaratan berikutnya.korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi.
          Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam umumnya berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3. nH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah. Korosi merupakan proses elektro kimia.Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, dimana besi mengalami oksidasi. (Suroso, Asih, dkk.2011)
                                                                                                                   
2.2. Penyebab korosi                                                                           
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik pencampuran bahan dan
sebagainya. Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembaban, keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya. Bahan-bahan korosif                    (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam, baik dalam bentuk senyawa  
maupunan-organik. Penguapan dan pelepasan bahan-bahan korosif  keudara dapat mempercepat proses korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu asam atau basa dapat mepercepat proses korosi peralatan elektronik yang ada dalam ruangan tersebut. Flour, hidrogen fluorida beserta senyawaan-senyawaannya dikenal sebagai bahan korosif. Dalam industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa bahan-bahan organik. Amoniak (NH3) merupakan bahan kimia yang cukup banyak digunakan dalam kegiatan industri. Pada suhu dan tekanan normal, bahan ini berada dalam bentuk gas dan sangat mudah terlepas ke udara.
( Purba, Michael.2007)
2.3. Proses Terjadinya Korosi
            Korosi atau pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan – bahan logam yang pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan berair dan oksigen. Contoh yang paling umum, yaitu kerusakan logam besi dengan terbentuknya karat oksida. Dengan demikian, korosi menimbulkan banyak kerugian. Korosi logam melibatkan proses anodik, yaitu oksidasi logam menjadi ion dengan melepaskan elektron ke dalam (permukaan) logam dan proses katodik yang mengkonsumsi electron tersebut dengan laju yang sama : proses katodik biasanya merupakan reduksi ion hidrogen atau oksigen dari lingkungan sekitarnya. Untuk contoh korosi logam besi dalam udara lembab.( Purba, Michale. 2007 )

2.4. Dampak dari korosi
            Karatan adalah logam yang mengalami kerusakan berbentuk keropos. Sedangkan bagian logam yang rusak dan berwarna hitam kecoklatan pada baja disebut Karat. Secara teoritis karat adalah istilah yang diberikan terhadap satu jenis logam saja yaitu baja, sedangkan secara umum istilah karat lebih tepat disebut korosi. Korosi didefenisikan sebagai degradasi material (khususnya logam dan paduannya) atau sifatnya akibat berinteraksi dengan lingkungannya. Korosi merupakan proses atau reaksi elektrokimia yang bersifat alamiah dan berlangsung dengan sendirinya, oleh karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan sama sekali. Korosi hanya bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga memperlambat proses perusakannya. Dilihat dari aspek elektrokimia, korosi merupakan proses terjadinya transfer elektron dari logam ke lingkungannya. Logam berlaku sebagai sel yang memberikan elektron dan lingkungannya sebagai penerima elektron. Reaksi yang terjadi pada logam yang mengalami korosi adalah reaksi oksidasi, dimana atom-atom logam larut kelingkungannya menjadi ion-ion dengan melepaskan elektron pada logam tersebut. Sedangkan dari katoda terjadi reaksi, dimana ion-ion dari lingkungan mendekati logam dan menangkap elektro-elektron yang tertinggal pada logam. Dampak yang ditimbulkan korosi sungguh luar biasa.
               Dampak yang ditimbulkan korosi dapat berupa kerugian langsung dan kerugian tidak langsung. Kerugian langsung adalah berupa terjadinya kerusakan pada peralatan, permesinan atau stuktur bangunan. Sedangkan kerugian tidak langsung berupa terhentinya aktifitas produksi
karena terjadinya penggantian peralatan yang rusak akibat korosi,  kehilangan produk akibat adanya kerusakan pada kontainer, tangki bahan bakar atau jaringan pipa air bersih atau minyak mentah, terakumulasinya produk korosi pada alat penukar panas dan jaringan pemipaannya akan menurunkan efisiensi perpindahan panas, dan lain sebagainya. Berdasarkan kondisi lingkungannya, korosi dapat diklasifikasikan sebagai korosi basah yaitu korosi yang terjadi dilingkungan air, korosi atmosferik yang terjadi di udara terbuka dan korosi temperatur tinggi yaitu korosi yang terjadi dilingkungan bertemperatur diatas 500oC. ( Suroso, Asih, dkk.2011)

2.5. Mencegah terjadinya korosi
            Prinsip sederhananya adalah ”menutup” jalan masuk dan kontak antara permukaan besi dengan air dan udara. Caranya bisa bermacam-macam, misal dengan cara pengecatan, dan melapisi besi dengan bahan lain misal chrom, nekel (misal pada pelg roda sepeda kamu), penyepuhan atau galvanisasi. Ada juga logam yang dibentuk dari campuran besi sedemikian rupa namun tetap kuat yang disebut dengan STAINLESS STELL atau baja tahan karat, biasanya digunakan untuk pisau, alat dapur atau alat-alat kedokteran/kesehatan. Cara lainnya adalah dengan apa ayang disebut dengan PROTEKSI KATODIK, yaitu menlindungi benda
besi dari karat dengan menjadikannya benda itu sebagai KATODA, secara sederhana bisa dijelaskan bahwa sebatang besi akan lebih mudah terkena karat dibandingkan tembaga, maka dengan "menempelkan" besi pada sebuah tembaga, maka karat yang muncul akan "terserap" menuju besi, bukannya tembaga. Cara ini biasanya digunakan untuk jalur pipa yang panjang, menara tinggi, dan juga mulai dikembangkan dalam teknologi pencegah karat di kendaraan mobil. misalnya menara menara antena, terbuat dari besi kan. Lalu kenapa mereka tidak bisa berkarat? Itu disebabkan karena setiap beberapa waktu selalu di cat ulang, tidak menyisakan tempat bagi udara dan air bertemu dengan permukaan besi membentuk karat.                           
 ( Sagala, Polmer P. 2011 )



BAB III
METODE PENELITIAN


3.1. Alat dan bahan
1.       Tabung reaksi
2.      Paku
3.      Serbet
4.      Air
5.      Minyak tanah
6.      Air hujan
7.      Air panas
8.      Cuka

3.2. Cara kerja

1. Siapkan 10 buah tabung reaksi yang telah dibersih kan.
2. Isi 5 tabung reaksi dengan masing-masing larutan tersebut, ditutup dengan    rapat.
3. Lalu 5 tabung reaksi yang lain di isi dengan larutan yang sama masukkan sedikit kapas, biarkan tabung reaksi terbuka.
4. Simpan ditempat yang aman.
5. Mengamati perubahan paku selama 3 hari


3.3. Waktu dan tempat praktikum

            3.3.1. Waktu   : 18 februari 2013
            3.3.2. Tempat : Laboratorium IPA SMAN 1 SP. KIRI



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.                      Hasil penelitian

Tabel pengamatan
No
Paku pada tabung
Hasil Pengamatan
1
Air
Berkarat
2
Minyak tanah
Tidak Berkarat
3
Air hujan
Berkarat
4
Air panas
Berkarat
5
Asam cuka
Berkarat



4.2.                      Pembahasan

Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa paku yang dimasukkan ke dalam air,air tawar,air hujan, dan asam cuka mengalami korosi(berkarat),sedangkan paku yang dimasukkan ke dalam minyak tanah tidak mengalami korosi(berkarat),hal ini disebabkan karena minyak tanah bukan termasuk ke dalam bahan-bahan korosif(yang menyebabkan korosi).
Dari keempat bahan yang dapat menyebabkan korosi tersebut,yang paling cepat proses korosinya adalah asam cuka,karena selain termasuk kedalam bahan yang korosif(yang menyebabkan korosi),asam cuka juga menghasilkan H+ sehingga paku lebih cepat berkarat. Selanjutnya,setelah asam cuka,yang paling cepat korosinya adalah air hujan,karena air hujan mengandung CO2 yang dapat membentuk senyawa HCO3 yang bersifat asam. Kemudian setelah air hujan,yang paling cepat proses korosinya adalah air tawar, hal ini disebabkan oleh faktor kelembaban udara(air dan gas O2). Kemudian setelah air tawar adalah air panas,hal ini disebabkan karena air yang sudah dipanaskan,banyak mengandung uap air.




BAB  V
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan
                Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian diatas adalah sebagai berikut:
Ø  Asam cuka,air tawar,air hujan dan air panas termasuk kedalam bahan-bahan korosif (bahan yang dapat menyebabkan korosi).
Ø  Minyak tanah bukanlah bahan yang dapat menyebabkan korosi,oleh karena itu minyak tanah tidak termasuk kedalam bahan yang korosif.



DAFTAR PUSTAKA

Suroso, Asih, dkk.2011. Kimia untuk SMA/MA  Kelas XII Semester 1. Aspirasi
Purba, Michael. 2007. KIMIA untuk Kelas XII. Jakarta : Erlangga
Sagala, Polmer P. 2011. Jago KIMIA SMA Kelas 1, 2, 3. Jakarta : Kawan Pustaka


Thanks guys

5 komentar:

Unknown mengatakan...

Trimakasih, karena ini sangat membantu.

Unknown mengatakan...

itu berapa hari penelitian

Nusril Gaming mengatakan...

Terima kasih udah membant
izin copy untuk tgs penelitian sma kelas 12

Unknown mengatakan...

Terimakasih buk Emma

Tommy mengatakan...

Apabila Anda mempunyai kesulitan dalam pemakaian / penggunaan chemical , atau yang berhubungan dengan chemical, jangan sungkan untuk menghubungi, kami akan memberikan konsultasi kepada Anda mengenai masalah yang berhubungan dengan chemical.

Salam,

(Tommy.k)

WA:081310849918
Email: Tommy.transcal@gmail.com

Management

OUR SERVICE
Boiler Chemical Cleaning
Cooling tower Chemical Cleaning
Chiller Chemical Cleaning
AHU, Condensor Chemical Cleaning
Chemical Maintenance
Waste Water Treatment Plant Industrial & Domestic (WTP/WWTP/STP)
Degreaser & Floor Cleaner Plant
Oli industri
Rust remover
Anti karat

Posting Komentar